Kamis, 14 April 2011

analisis fiksi

ANALISIS FIKSI DENGAN PENDEKATAN SEMIOTIK

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengkajian Fiksi
Dosen Pengampu : Dr.Ali Imron Al-Ma’ruf, M.Hum.





Disusun oleh :

Yakub Priyono              A310080069
Uswatun Khasanah       A310080075
Afifah Sarmawati           A310080083
Yuli Maryani                 A310080084
Tulastya Ariyani            A310080120





PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2 0 1 0


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Penelitian sastra dengan pandekatan semiotik pada dasarnya merupakan lanjutan dari pendekatan strukturalisme. Bahkan strukturalisme tidak dapat dipisahkan dengan semiotik karena karya sastra itu merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna. Dalam pandangan semiotik, bahasa merupakan sebuah sistem tanda, dan sebagai suatu tanda bahasa mewakili sesuatu yang lain yang disebut makna. Bahasa sebagai suatu sistem tanda dalam teks kesastraan tidak hanya menyaran pada sistem makna tingkat pertama , melainkan terlebih pada sistem makna tingkat kedua. (culler, 1977: 114)

Ilmu semiotik ini menganggap bahwa fenomena sosial dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Hal ini mengingat bahwa karya sastra itu merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan bahasa. Bahasa sebagai karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti.

B.     RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana definisi semiotik ?
  2. Bagaimana menganalisis sastra dengan pendekatan semiotik ?
  3. Bagaimana jenis – jenis tanda ?

C.    TUJUAN
  1. Untuk mendiskripsikan tentang definisi semiotik
  2. Untuk  menganalisis sastra dengan pendekatan semiotik
  3. Untuk memaparkan jenis – jenis tanda


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Semiotik
Semiotik adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda. Semiotik itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Dalam kritik sastra, penelitian semiotik mempunyai analisis sastra sebagai sebuah penggunaan bahasa yang bergantung pada konvensi-konvensi tambahan dan memiliki ciri-ciri yang menyebabkan bermacam-macam cara. (Preminger, dalam Pradopo, 119).
Semiotika modern mempunyai dua orang pelopor, yaitu Charles Sanders Peirce (1839-1914) dan Ferdinand de Saussure (1857-1913). Saussure menyebutkan ilmu semiotik dangan sebutan semiologi, sedangkan Pierce menyebutkan semiotik dengan Semiotic. Kemudian nama itu sering dipergunakan berganti-ganti namun dengan pengertian yang sama.
Pengertian Pendekatan semiotika dipilih karena semiotika merupakan salah satu pendekatan yang sedang diminati dewasa ini. Semiotika adalah ilmu tanda dan istilah ini berasal dari kata Yunani yang berarti tanda. (Panuti Sudjiman & Aart van Zoest, 1992). Tanda bisa terdapat dimana-mana, misalnya: lampu lalu lintas, bendera, karya sastra, bangunan dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena manusia adalah Homo Semioticus, yaitu manusia mencari arti pada barang-barang dan gejala-gejala yang mengelilinginya (Aart van Zoest, 1978 dan Lavers).
Semiotik biasa didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengkomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal. Awal mula konsep semiotik diperkenalkan oleh Ferdinan De Saussure melalui dikotomi sistem tanda. Konsep ini melihat bahwa makna muncul karena ada hubungan antara yang ditandai dengan yang menandai.
B.  Analisis sastra dengan pendekatan semiotik
1.                  Metode Semiotik dalam penelitian sastra
Karya sastra merupakan seni yang mempergunakan bahasa sebagai medianya. Bahasa berkedudukan sebagai bahan dalam hubungannya dengan sastra, sudah mempunyai sistem dan konversi sendiri, maka disebut sistem semiotik tingkat pertama. Sastra mempunyai sistem dan konversi sendiri yang mempergunakan bahasa, disebut sistem semiotik tingkat kedua. Studi semiotik menurut Premiger adalah usaha untuk menganalisis sistem tanda-tanda. Misalnya dalam menganalisis puisi. Puisi merupakan sistem tanda yang mempunyai satuan-satuan tanda seperti kosakata dan bahasa kiasan. Tanda-tanda mempunyai makna berdasarkan konvensi-konvensi sastra. Contoh konvensi-konvensi dalam puisi diantaranya adalah konvensi kebahasaan, konvensi ambiguitas, dan konvensi visual.
Arti dan makna satuan tidak lepas dari konvensi-konvensi sastra pada umumnya. Konvensi itu merupakan perjanjian masyarakat, baik masyarakat bahasa maupun masyarakat sastra. Perjanjian tersebut adalah perjanjian tak tertulis disampaikan secara turun-temurun bahkan kemudian sudah menjadi hakekat sastra sendiri.
2.                  Pembacaan Semiotik : Heuristik dan Hermeneutik ( Retroaktif )
Untuk dapat memberikan makna sajak secara semiotik, pertama kali dapat dilakukan dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik ( retroaktif ), (Reffeterre dalam Jabrohim, 2003 : 80). Dalam rangka memahami dan mengungkap “sesuatu” yang terdapat di dalam karya sastra, dikenal adanya istilah heuristik (heuristic) dan hermeneutik (hermeneutic). Kedua istilah ini yang secara lengkap disebut sebagai pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik, biasanya dikaitkan dengan pendekatan semiotik (lihat Riffaterre, 1980: 4-6). Hubungan antara heuristik dengan hermeneutik dapat dipandang sebagai hubungan yang bersifat gradasi, sebab kegiatan pembacaan dan atau kerja hermeneutik haruslah didahului oleh pembacaan heuristik.
Cara kerja hermeneutik untuk penafsiran karya sastra, menurut Teeuw (1984: 123) dilakukan dengan pemahaman keseluruhan berdasarkan unsur-unsurnya dan sebaliknya, pemahaman unsur-unsur berdasarkan keseluruhannya. Cara kerja tersebut dilandasi suatu asumsi bahwa karya sastra yang merupakan sebuah totalitas dan kebulatan makna itu dibangun secara koherensif oleh banyak unsur intrinsik.
a.      Pembacaan Heuristik
Adalah pembacaan berdasar struktur atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama. Misalnya dalam sajak, pembaca heuristik yaitu membaca sajak berdasar struktur kebahasaannya.
b.      Pembacaan Hermeneutik ( Retroaktif )
Adalah pembacaan karya sastra berdasar konvensi sastranya Atau dengan kata lain pembacaannya hermeneutik adalah pembacaan ulang ( Retroaktif ) sesudah pembaca heuristrik dengan dengan memberikan konvensi sastranya.

C. Tanda : Penanda, dan Petanda
Semiotik adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda (HOED, 1992:2). Tanda mempunyai 2 aspek : Penanda dan Petanda. Penanda adalah bentuk formal yang menandai sesuatu. Sedangkan Petanda adalah sesuatu yang ditandai oleh penanda itu. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain yang dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan.
Dalam hubungannya antara penanda dan petanda ada beberapa jenis tanda yaitu ikon, indeks, dan symbol. Ikon adalah tanda yang paling mudah dipahami karena kemiripannya dengan sesuatu yang diwakili(A.Chaer,2002:41). Ikon adalah suatu tanda yang acuan dengan hubungannya memiliki kemiripan. Dalam ikon Peirce membagi menjadi tiga, yaitu :
1.      Ikon tipologis adalah tanda yang acuan dengan penghubungnya memiliki kemiripan. Contoh peta, sketsa, dan globe.
2.      Ikon diadramatik adalah tanda yang memiliki kemiripan nasional. Contoh : dalam sebuah pagelaran kesenian daerah tempat duduk sudah diatur menurut status sosial.
3.              Ikon metaforsi adalah tanda yang sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan acuannya melainkan dua acuan yang diacu oleh tanda yang sama. Contoh dalam cerita anak si kancil, tanda” kancil mengacu binatang kancil ( sebagai acuan langsung). Kemudian manusia ( acuan tidak langsung) namun diantara kedua acuan ini terdapat ciri yang sama yaitu sifat cerdik.
Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain(A.Chaer,2002:41). Indeks adalah  tanda yang dengan acuanya memiliki kedekatan eksistensi. Contoh: hari mendung menjadi tanda hujan. Gambaran suasana yang muram dalam pementasan wayang merupakan indeks tokoh sedang sedih. Symbol adalah tanda yang hubungan dengan acuan terbentuk secara konvensional. Jadi sudah ada persetujuan antara pemakai tanda tentang hubungan tanda dengan acuannya. Misalnya peristiwa jabat tangan, rambu lalu lintas.












BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Semotik adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Dalam pembacaan semiotik dapat menggunakan pembacaan heuristik dan hermeneutik. Namun yang paling penting dalam semoiotik adalah tanda. Dalam pengertian tanda ada dua prinsip, yaitu penanda atau yang menandai, yang merupakan bentuk tanda, dan penanda atau yang ditandai, yang merupakan arti tanda.
Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda hubungan antara penanda dan petandanya bersifat persamaan bentuk alamiyah. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat. Sedangkan simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan hubungan alamiyah antara penanda dan petandanya.

           












DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2002. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta     
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University  Press
Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar