Jumat, 08 April 2011

Analisis Cerpen


APRESIASI CERPEN
”Lik Mah Gresek”
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Apresiasi Sastra
Dosen Pengampu :  Drs. Adyana Sunanda






Disusun Oleh:
Nama: Yakub Priyono
Nim   :    A 310080069

PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010

APRESIASI CERPEN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Apresiasi Sastra
Dosen Pengampu :  Drs. Adyana Sunanda

NAMA           : Yakub Priyono
NIM                : A 310080069
Kelas               : B

Judul              : Lik Mah Gresek
Sumber           : Media massa Kompas, Minggu, 06 Sebtember 2009

Hasil apresiasi:
Lik Mah Gresek
Oleh: Hamid Nuri

            Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novel. Oleh sebab itu cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, dan bahasa secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
Dalam cerita pendek yang menjadi objek analisis ini mengambil tema yang bersifat kehidupan sosial. Tidak jarang cerpen-cerpen yang sering kita temui itu merupakan cerita pendek yang mengangkat tema tentang percintaan. Namun cerita pendek yang satu ini lain. Cerpen ini mengangkat tema yang bernuansa sosial masyarakat , dimana seorang janda tua yang hidup sendiri mampu mencari nafkah dengan keringatnya sendiri. Tidak hanya itu, sifat baik hati dan kejujuran yang ada pada wanita tua itu memang sangat besar sehingga dia sering mendapatkan kebaikan dari orang lain.
Nama dari wanita tua itu sebenarnya Siti Maryamah. Namun di kampungnya ia akrab disapa dengan lik mah gresek. Bukan tanpa alasan ia dipanggil dengan nama itu, karena di kampung itu ada tiga nama yang sama, sedangkan ia mempunyai mata pencaharian sebagai seorang pemulung, maka tidak heran jika ia dipanggil dengan nama lik mah gresek.
Sosok lik mah yang begitu ulet dan pekerja keras mampu menghidupi dirinya sendiri. Kesehariannya memang hanya sebagai ibu rumah tangga dan mengumpulkan barang-barang bekas atau mulung. Namun lewat kegigihan lik mah itulah ia mampu hidup mandiri tanpa menggantungkan diri terhadap orang lain. Keadaan itulah yang tersurat dalam sepenggal ceritanya…” sebagai tukang gresek (pemulung) pagi-pagi sekali sebelum adzan subuh lik Mah sudah bangun. Biasanya ia keliling kampung menuju rumah-rumah yang ada pohon melinjonya, ia akan memunguti buah melinjo yang jatuh kemudian dikumpulkan dalam kantong plastik yang sudah dia siapkan. Biasanya kalau sudah terkumpul bebrapa kilogram melinjo dia setorkan pada pembuat emping melinjo. Pekerjaan mencari melinjo itu ia lakukan sampai adzan subuh terdengar., saat itu lik Mah akan mampir ke masjid untuk ikut shalat subuh berjamaah. Usai shalat subuh ia sambil jalan-jalan pagi mencari gresek seperti kardus, kertas Koran atau botol dan gelas air kemasan di jalan kota. Biasanya pukul 08.00 pagi sudah dirumah tentu dengan membawa kantong besar yangt berisi kertas Koran, kardus atau botol dan gelas minuman kemasan. Barang-barang yang ia kumpulkan itu ditinggalkan terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Seperti memasak air atau menanak nasi. Baru setelah pekerjaan itu selesai kemudian memilah barang dikumpulkan tiap jenis barang sendiri untuk kemudian disetorkan ke pengepul”. Itulah yang dilakukan lik Mah setiap harinya demi mempertahankan hidup. Dia memang sudah menjanda dan tinggal sendirian di rumahnya. Anak-anaknya pergi ke luar kota semua, anaknya yang laki-laki ikut istrinya sedangkan yang perempuan kuliah di ITB karena mendapatkan beasiswa untuk kuliah disana.
Kemandirian lik Mah yang tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain ternyata berlaku juga terhadap anaknya. Lik Mah tidak ingin ikut anaknya ketika diajak pindah. Dan juga tidak mau menuruti saran anaknya agar berhenti bekerja dengan janji tiap bulan akan dikirimi uang untuk kebutuhan hidupnya. Namun lik Mah memilih untuk menolak saran anaknya. Itulah yang menjadi ciri dari wanita janda tua yang bernama lik Mah, sosok wanita yang pekerja keras dan berbudi luhur. Sampai-sampai para warga pun menaruh rasa kagum kepadanya.
Suasana yang damai dan penuh dengan kehidupan sosial sangat kental dalam cerita pendek ini. Lik Mah yang mempunyai mata pencaharian sebagai seorang pemulung sering membantu para tetangga sekitar. Hal itu menunjukkan bahwa kebersamaan di antara mereka sangat erat. Terlihat pada penggalan cerita…”lik Mah juga yang dengan senang hati mau disuruh untuk menjualkan hasil kebun, mencuci piring pada saat ada acara. Tentu saja untuk pekerjaan seperti ini ada honor tersendiri.
Begitulah lik Mah dalam mencari penghasilan untuk menyambung hidupnya. Pekerjaannya banyak membantu tetangga sekitar dan orang lain. Mereka merasa terbantu dengan adanya lik Mah. Tidak hanya itu, mereka sangat senang mempunyai tetangga seperti lik Mah, selain dia pekerja keras, dia juga santun terhadap siapa pun. Itulah yang menjadi alasan warga sekitar untuk segan terhadap lik Mah.
Di sisi lain selain yang nampak pada diri lik Mah itu adalah kebaikan dan kebersihan hatinya. Wanita janda yang hidup seorang diri ini hidup dalam keadaan serba pas-pasan namun tetap menampakkan kejujurannya. Terlihat ketika lik Mah menemukan gelang permata milik ibu kapolda. “karena lik Mah yang menemukan liontin berlian ibu kapolda yang hilang saat melayat di rumah pak kepala DPRD lalu. Kebetulan saat mengumpulkan dos dan gelas bekas air kemasan. Lik Mah yang menemukan liontin berlian itu. Dan ternyata lik Mah jujur karena liontin itu diserahkan pada polisi yang berjaga…….. tapi lik Mah memilih mengembalikan”. Itulah yang membuat sosok lik Mah menjadi wanita yang disegani di tengah-tengah masyarakat. Hatinya yang baik hati, suka menolong dan tentunya dia adalah seorang yang pekerja keras dan mempunyai keuletan serta tanggung jawab atas apa yang ia lakukan dan ia hadapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar