Minggu, 10 April 2011

sinopsis novel


JUDUL                      : RONGGENG DUKUH PARUK
PENGARANG          : AHMAD TOHARI
PENERBIT               : GRAMEDIA

Di sebuah desa hiduplah seorang gadis kecil, srintil namanya. Dia adalah gadis yang tinggal di desa tersebut. Desa itu bernama dukuh Paruk yang letaknya terpencil dan miskin. Namun, memiliki sebuah  warisan kesenian ronggeng yang senantiasa menggairahkan kehidupan masyarakatnya.. Tradisi itu hamper hilang akibat terjadi musibah keracunan tempe bongkrek yang menewaskan sebagian warga Dukuh Paruk sehingga menurunkan semangat kehidupan masyarakat setempat. Untunglah penduduk di desa itu menemukan kembali semangat kehidupan setelah melihat gadis cilik pada umur belasan tahun secara alamiah menari ketika bermain-main di tegalan bersama kawan-kawan sebayanya, yaitu Rasus, Warta, dan Darsun. Permainan menari itu terlihat oleh kakek Srintil, Sakarya, yang kemudian sadar bahwa cucunya sungguh berbakat menjadi penari ronggeng. Berbekal keyakinan itulah, Sakarya menyerahkan Srintil kepada dukun ronggeng Kartareja. Dengan harapan kelak Srintil menjadi seorang ronggeng yang diakui oleh masyarakat.
Dalam waktu singkat, Srintil membuktikan bakat menari dan selanjutnya dia pun berstatus gadis pilihan yang menjadi milik masyarakat. Sebagai seorang ronggeng, Srintil harus menjalani serangkaian upacara tradisional yang puncaknya adalah menjalani upacara “bukak klambu”, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapa pun lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal. Meskipun Srintil sendiri merasa ngeri, tak ada kekuatan dan keberanian untuk menolaknya. Srintil telah larut dalam kekuasaan sebuah tradisi, namun Rasus yang merasa mencintai gadis itu tidak bisa berbuat banyak setelah Srintil resmi menjadi ronggeng yang dianggap milik orang banyak. Oleh karena itu, Rasus memilih pergi dari  Dukuh Paruk.
Kepergian Rasus itu melukai hati Srintil dan besar sekali pengaruhnya terhadap masa depannya. Rasus yang terluka hatinya memilih meninggalkan Dukuh Paruk menuju pasar Dawuan. Dari tempat itulah Rasus mengalami perubahan hidup dari seorang remaja dusun yang miskin dan buta huruf menjadi seorang yang gagah setelah terlebih dahulu menjadi tobang. Dengan kegagahan itulah Rasus memperoleh penghormatan seluruh warga Dukuh Paruk, lebih-lebih setelah berhasil menembak dua orang perampok yang berniat menjarah rumah Kartareja yang menyimpan harta kekayaan ronggeng Srintil.
Beberapa hari di Dukuh Paruk Rasus sempat menikmati kemanjaan dan keperempuanan Srintil sepenuhnya. Tapi itu semua tidak menggoyahkan tekadnya yang bulat untuk menjauhi Srintil dan dukuhnya yang miskin. Keesokan harinya Rasus pergi tanpa sepengetahuan Srintil yang masih tidur. Kepergian Rasus itu sangat mengejutkan dan menyadarkan Srintil bahwa ternyata tidak semua lelaki dapat ditundukkan oleh seorang ronggeng. Setelah kejadian itu Srintil berubah sikap. Kebanyakan mereka tidak senang menyaksikan kemurungan Srintil, sebab mereka percaya ronggeng menjadi simbol kehidupan. Srintil tetap bertahan tidak ingin menari sebagai ronggeng, bahkan senang mengasuh bayi Goder (anaknya Tampi, seorang tetangga) dengan gaya asuhan seorang ibu kandung.
Srintil masih bertahan ketika datang tawaran menari dari Kantor Kecamatan Dawuan yang akan menggelar pentas kesenian menyambut perayaan Agustusan. Namun karena mendapat ancaman dari Pak Ranu dari Kantor Kecamatan. Srithil akhirnya bersedia menari. Tanpa sepengetahuan srintil, perayaan Agustusan pada tahun 1964 itu sengaja dibuat berlebihan oleh orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Warna merah dipasang di mana-mana dan muncullah pidato-pidato yang menyebut-nyebut rakyat tertindas, kapitalis, imperalis, dan sejenisnya.
Waktu itu pemberontakan PKI berakhir dalam sekejap dan akibatnya orang-orang PKI atau mereka yang dikira PKI dan siapa pun yang berdekatan dengan PKI di daerah mana pun ditangkap dan ditahan. Nasib itu terjadi pada Srintil yang harus mendekam di tahanan tanpa alasan. Pada awalnya terjadi paceklik di mana-mana sehingga menimbulkan kesulitan ekonomi secara menyeluruh. Pada waktu itu, orang-orang Dukuh Paruk tidak berpikir panjang dan tidak memahami berbagai gejala yang berkembang di luar wilayahnya. Dalam masa paceklik yang berkepanjangan, Srintil terpaksa lebih banyak berdiam di rumah, karena jarang orang mengundang berpentas untuk suatu hajatan. Namun, tidak lama kemudian Srintil sering pentas di rapat-rapat umum yang selalu dihadiri oleh tokoh Bakar. Srintil tidak memahami makna rapat-rapat itu, yang dia tahu hanyalah menari melayani nafsu kelelakian.
Hubungan mereka merenggang setelah beberapa kali terjadi penjarahan padi yang dilakukan oleh kelompok Bakar. Sukarya merasa tersinggung dengan Bakar, karena Bakar mengungkit-ungkit masa lampau Ki Secamenggala yang dikenal orang sebagai bromocorah. Karena hal itu Sakarya memutus hubungan dengan kelompok Bakar. Sakarya tidak hanya melarang Srintil berpentas di rapat-rapat umum, dia juga minta pencabutan lambang partai. namun Bakar menanggapinya dengan bersahaja. Dalam tempo singkat, Dukuh Paruk kembali sepi dan miskin. Kedamaian itu hanya sebentar, kemudian kembali bergabung dengan kelompok Bakar setelah terkecoh oleh kerusakan cungkup makam Ki Secamenggala. Sakarya menduga kerusakan itu ulah kelompok Bakar yang sakit hati, tetapi kemudian beralih ke kelompok lain setelah menemukan sebuah caping bercat hijau yang tertinggal di pekuburan itu. Namun mereka tidak mampu membaca simbol itu. Dan Srintil pun semangat menari walaupun tariannya tidak seindah penampilannya yang terdahulu.
Ternyata penampilan itu merupakan akhir perjalanan Srintil sebagai ronggeng. Tiba-tiba pasar malam bubar tanpa penjelasan apa pun dan banyak orang ketakutan, sehingga kehidupan terasa sepi dan mencekam. Berbagai peristiwa membuat orang Dukuh Paruk ketakutan, tetapi tidak mengetahui bagaimana penyelesaiannya. Yang terpikir adalah melaksanakan upacara selamatan dan menjaga kampung dengan ronda. Keesokan harinya orang-orang Dukuh Paruk melepas langkah Kartareja dan Srintil yang berniat meminta perlindungan polisi di Dawuan. Ternyata harapan berlindung kepada polisi itu sirna, karena kepolisian sudah menyimpan catatan nama Srintil yang terlanjur populer sebagai ronggeng rakyat yang mengibarkan bendera PKI.
Srintil pulang ke Dukuh Paruk setelah dua tahun mendekam dalam tahanan politik dengan kondisi kejiwaan yang sangat tertekan. Ia berjanji menutup segala kisah dukanya selama dalam tahanan dan bertekad melepas predikat ronggengnya untuk membangun sebuah kehidupan pribadinya yang utuh sebagai seorang perempuan namun Srintil kembali mendapat tekanan dari lurah Pecikalan agar mematuhi kehendak Pak Bajus. Bajus hendak menikahi Srintil, sehingga Srintil berusaha mencintai Bajus. Tapi Srintil sangat kecewa, karena Bajus ternyata lelaki impoten yang justru hanya berniat menawarkannya kepada seorang pejabat proyek. Srintil pun mengalami goncangan jiwa dan akhirnya menderita gila dan akhirnya dibawa ke rumah sakit jiwa oleh Rasus.











KAJIAN MAKNA
Makna Kebudayaan
            Unsur kebudayaan yang terdapat di dalam novel ronggeng dukuh Paruk ini dapat dilihat pada kebiasaan di desa dukuh Paruk tersebut. Di desa itu masih menjalankan adat istiadatnya yang diturunkan nenek moyang mereka dulu yang bernama Ki Secamenggala. Masyarakat dukuh Paruk masih mempertahankan kebudayaan mereka, yaitu ronggeng. Tanpa adanya ronggeng, desa dukuh Paruk tersebut seperti tidak bernyawa. Untuk menjadi seorang ronggeng, keluarga calon menyerahkan calon ronggeng kepada dukun ronggeng, untuk menjadi anak akuan, seperti pada kutipan ini :
”Pada hari baik, Srintil diserahkan oleh kakeknya kepada Kartareja. Itu hukum dukuh Paruk yang mengatur perihal seorang calon ronggeng. Keluarga calon harus menyerahkannya kepada dukun ronggeng, menjadi anak akuan”. (Ahmad Tohari. 17).
            Adat dukuh Paruk juga mengajarkan untuk memperebutkan sesuatu, laki-laki harus saling beradu, yang dijelaskan pada kutipan ini :
”Adat dukuh Paruk juga mengajarkan kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di sini. Rasus, Warta dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi singkong yang baru mareka cabut”. (Ahmad Tohari: 11).

Makna Religius
            di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk tersebut terdapat banyak makna religius yang dapat dianalisis. Dinovel ini banyak menceritakan tentang masalah kepercayaan arwah nenek moyang yaitu kepercayaan penduduk dukuh paruk terhadap arwah nenek moyang mereka yang sudah lama meninggal yaitu Ki Secamenggala. Kubursnnys selalu disembah oleh penduduk Dukuh Paruk seperti pada kutipan ini:
” di pedukuhan itu ada kepercayaan kuat, seorang ronggeng sejati bukan hasil pengajaran. Bagaimanapun diajari, seorang perawan tak bisa menjadi ronggeng kecuali roh indang telah memasuki tubuhnya. Indang adalah semacam wangsit yang dimuliakan didunia peronggengan.”

Makna Psikologi 
            Makna psikologi yang terdapat di dalam novel ini yaitu tentang seorang perempuan yang menjadi seorang ronggeng yang sudah sering ditiduri oleh banyak lelaki yang membayarnya. Ia selalu menginginkan untuk mencintai dan dicintai oleh seorang laki-laki yang tulus mencintainya dan dinikahi olh laki-laki tersebut. Tetapi karena tidak ada satupun yang mau menikahinya karena ia adalah searang ronggeng ia menjadi stress dan ia menjadi wanita yang gila yang selalu ingin dinikahi oleh pria.
            Novel ini juga menceritakan tentang seorang ronggeng Dukuh Paruk yang mencintai seorang laki-laki yang telah meninggalkannya karena dirinya telah menjadi ronggeng. Jiwanya terkoyak, ia tidak bisa menerima keadaan ini dan ia berontak dengan caranya sendiri. Sikap inilah yang menjadi faktor dalam pertumbuhan kepribadiannya.   







JUDUL                      : AYAT-AYAT CINTA
PENGARANG          : HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY
PENERBIT               : PENERBIT REPUBLIKA
Seorang mahasiswa Indonesia yang  akrab dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup di negeri orang. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Fahri bin Abdillah namanya. Dia adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berteman dengan panas dan debu Mesir. Belajar disana membuat Fahri dapat mengenal Maria, Nurul, Noura, dan Aisha.
Maria adalah tetangga satu flat Fahri, yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al Quran, serta menganggumi Fahri. Karena kekagumannya tarhadap  Fahri itu yang berubah menjadi cinta. Sementara Nurul adalah putri dari seorang kyai terkenal, yang juga belajar di Mesir. Namun sesungguhnya Fahri menyukai gadis manis ini. Karena Fahri hanya anak seorang petani, akibatnya membuat dia tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sedang Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak.
Sedangkan Noura adalah tetangga Fahri, yang selalu disiksa ayahnya. Fahri berniat penuh untuk membantu Noura. Namun karena tidak berani, Fahri hanya melihat saja dan penuh harap.
Aisha, adalah gadis Jerman yang bertemu Fahri di metro melalui sebuah  insiden. Sejak kejadian itu Aisha tertarik pada Fahri. Saat itu Fahri dalam perjalanan menuju Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terletak di Shubra El-Kaima, ujung utara kota Cairo, untuk talaqqi (belajar secara face to face pada seorang syaikh) pada Syaikh Utsman, seorang syaikh yang cukup tersohor di Mesir. Dengan menaiki metro, Fahri berharap ia akan sampai tepat waktu di Masjid Abu Bakar As-Shiddiq. Di metro itulah ia bertemu dengan Aisha. Aisha yang saat itu dicacimaki dan diumpat oleh orang-orang Mesir karena memberikan tempat duduknya pada seorang nenek berkewarganegaraan Amerika, ditolong oleh Fahri. Pertolongan tulus Fahri memberikan kesan yang berarti pada Aisha.
Fahri tinggal bersama dengan keempat orang temannya yang juga berasal orang Indonesia yaitu Siful, Rudi, Hamdi, dan Misbah. Mereka tinggal di sebuah apartemen berlantai dua. Fahri dan empat temannya tinggal di lantai dasar, sedangkan yang lantai atas ditemapati oleh keluarga Broutus dan juga menjadi tetangga mereka. Walau keyakinan dan aqidah mereka berbeda, tapi antara keluarga Fahri dan Tuan Broutos terjalin sangat baik. Selain itu Fahri dan Maria berteman begitu akarab. Fahri menyebut Maria sebagai gadis koptik yang aneh. Bagaimana tidak, Maria mampu menghafal surat Al-Maidah dan surat Maryam.
Selain itu, Fahri juga mempunyai tetangga yang berkulit hitam yang sifatnyanya bertolak belakang dengan keluarga Broutos. Kepala keluarga ini bernama Bahadur. Istrinya bernama madame Syaima dan anak-anaknya bernama Mona, Suzanna, dan Noura. Keluarganya sering menyisksa Noura. Nasib Noura memang malang. Suatu malam Noura diusir Bahadur dari rumah. Noura diseret ke jalan serta dicambuk. Tangisan Noura membuat Fahri tidak tega melihatnya. Ia meminta Maria melalui sms untuk menolong Noura. Fahri tidak bisa menolong Noura secara langsung karena Noura bukan muhrimnya. Akhirnya Maria pun bersedia menolong Noura malam itu. Ia membawa Noura ke flatnya.
Sementara itu, Aisha tidak dapat melupakan pemuda yang baik hati mau menolongnya di metro saat itu. Aisha rupanya jatuh hati pada Fahri. Ia meminta pamannya Eqbal untuk menjodohkannya dengan Fahri. Kebetulan, paman Eqbal mengenal Fahri dan Syaik Utsman. Melalui bantuan Syaik Utsman, Fahri pun bersedia untuk menikah dengan Aisha.
Mendengar berita pernikahan Fahri, Nurul menjadi sangat kecewa. Paman dan bibinya sempat datang ke rumah Fahri untuk memberitahu bahwa keponakannya sangat mencitai Fahri. Namun semua itu sudah  terlambat karena Fahri akan segera menikah dengan Aisha. Setelah menikah, Fahri pindah ke sebuah apartemen mewah bersama istrinya. Setelah beberapa hari setelah pernikahan, Fahri mendapat kejutan dari Maria dan Yousef. Maria dan adiknya itu datang ke rumah Fahri untuk memberikan sebuah kado pernikahan. Namun Maria tampak lebih kurus dan murung karena saat Fahri dan Aisha menikah, keluarga Broutos sedang pergi berlibur. Begitu mendengar Fahri telah menikah  dan tidak lagi tinggal di flat, Maria sangat kecewa.
Kebahagian Fahri dan Aisha tidak bertahan lama karena Fahri harus menjalani hukuman di penjara atas tuduhan pemerkosaan terhadap Noura. Noura sangat kecawa saat mendengar Fahri telah menikah dengan Aisha. Di persidangan, Noura yang tengah hamil itu memberikan kesaksian bahwa janin yang dikandungnya adalah anak Fahri. Pengacara Fahri tidak dapat berbuat apa-apa karena ia belum memiliki bukti yang cukup untuk membebaskan Fahri dari segala tuduhan. Fahri pun harus tinggal  di penjara selama beberapa minggu. Satu-satunya saksi kunci yang dapat meloloskan Fahri dari fitnah kejam Noura adalah Maria. Marialah yang bersama Noura malam itu
namun Maria sedang lemah tak berdaya.
Luka hati karena cinta membuatnya jatuh sakit.
Tidak ada jalan lain. Atas desakan Aisha, Fahri menikahi Maria. Aisha berharap, dengan mendengar suara dan merasakan sentuhan tangan Fahri, Maria tersadar dari koma panjangnya dan bisa bersaksi di persidangan. harapan Aisha menjadi kenyataan. Maria dapat membuka matanya dan kemudian bersedia untuk memberikan kesaksian di persidangan. akhirnya Fahri pun terbebas dari tuduhan Noura.
Noura menyesal atas perbuatan yang dilakukannya itu. Dengan jiwa besar, Fahri memaafkan Noura yang telah menfitnahnya bersaman dengan itu, terungkaplah bahwa yang menghamili Noura adalah Bahadur, ayah Noura sendiri. Akhinya Fahri terbebas dari hukuman dan menjalani kehidupan seperti sediakala dan kebahagiaan kembali didapatkan. Walaupun Fahri mempunyai dua istri, dia bisa berbuat adil. Kedua istrinyapun saling menghormati satu sama lain.
KAJIAN MAKNA
Makna Religius
            Novel Ayat-ayat cinta ini banyak menceritakan tentang kehidupan yang penuh dengan religius, yang banyak menceritakan masalah agama dan hadis-hadis Rasulullah, seperti ketabahan, kesabaran, poligami, hubungan dengan berlainan agama, suami istri, keluarga dan banyak lagi. Seperti pada kutipan ini
”Dengan menghayati benar-benar kandungan ayat suci Al-Quran itu dan makna hadis-hadis Rasullah itu akan jelas sekali seperti apa sebenarnya ajaran islsm...”(Ayat-ayat Cinta :99)
            Dalam kalimat diatas sudah dijelaskan bahwa dalam novel ini ada pelajaran agama yang perlu diperhatikan dan dihayati sebagai pengalaman. Banyak makna yang dapat kita ambil didalamnya, banyak akhlak yang dapat kita ambil contohnya, seperti kesabaran seorang istri kepada suaminya, ketaatan dan kesolehan seorang pemuda, keteguhan seorang bule asal Amerika yang sangat dibenci orang-orang mesir untuk mempelajari islam dan mengetahui kebenaran islam serta keseriusan seorang perempuan katolik dalam mempelajari islam dan menghafalkan ayat-ayat Al-Quran.
Makna Pendidikan
            Novel ini merupakan novel pembangun jiwa, makna pendidikan yang dapat kita ambil didalamnya adalah tentang seorang pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan, walaupun dia sudah pintar dan berpendidikan tinggi tetapi ilmu tentang agama masih selalu dia pelajari, panas terik matahari tidak membuat dia patah semangat untuk belajar, dari sinilah dapat kita ambil kesimpulannya bahwa ilmu yang kita dapatkan tidak seberapa, kita harus lebih giat untuk mengejar ilmu sebanyak-banyaknya agar dikehidupan mendatang kita lebih matang untuk menghadapi sesuatu. Allah memberikan kita ilmu pengetahuan untuk dapat dikembangkan lebih banyak lagi, apalagi menyangkut ilmu tentang agama, masih banyak yang harus kita pelajari dan kita benahi.
Makna kemanusiaan
            Dalam novel ini terdapat makna kemanusiaan, makna kemanusiaan tersebut terdapat pada kutipan ini
”puncaknya adalah malam itu. Sore sebelum berangkat kerja, ayahnya memaksanya untuk ikut Mona berangkat setelah magrib. Ada turis asing yang memesan perawan Mesir. Naura dihargai sepuluh ribu pound. Harga yang menurut ayah dan kedua kakaknya sangat tinggi. Ia menolak. Ayahnya lalu mencambuk punggungnya berkali-kali. Ia tidak tahan, akhirnya ia pura-pura mau. Ayahnya berangkat. Tapi begitu shalat magrib ia mengurung diri dikamar. Tidak mau keluar. Tidak mau membuka pintu.”(Ayat-ayat Cinta :135)
            Dari kutipan ini dapat kita lihat bahwa tidak ada kemanusiaan yang terdapat di dalam keluarga Naura, Naura diperjual belikan seperti barang yang tidak mempunya hati dan perasaan, kalau ia tidak mau ia akan disiksa oleh ayah tirinya tersebut. Begitu kejam dan tidak ada rasa kemanusiaan ayah tirinya itu. Walaupun Naura adalah anak tiri tetapi ia adalah seorang manusia yang dapat memilih jalan kehidupannya sendiri tanpa harus dipaksa oleh siapapun.








JUDUL                      : LASKAR PELANGI
PENGARANG          : ANDREA HIRATA
PENERBIT               : BENTANG PUSTAKA

Dalam novel ini menceritakan kisah masa kecil anak-anak kampung di daerah Belitung dari suatu suku Melayu yang sangat miskin. Anak-anak  ini mencoba memperbaiki masa depan dengan menempuh pendidikan dasar dan menengah di sebuah lembaga pendidikan yang tergolong rendah. Dimana sekolah itu Bersebelahan dengan dengan SD atau lembaga pendidikan yang dikelola dan difasilitasi begitu modern. SD Muhammadiyah itu tampak begitu beda dibandingkan dengan sekolah-sekolah PN Timah (Perusahaan Negara Timah) lainnya yang begitu modern. Para native Belitung ini tersudut dalam keadaan yang sangat besar karena kemiskinannya justru berada di tengah-tengah gemah ripah kekayaan PN Timah yang mengeksploitasi tanah ulayat mereka.
Kesulitan terus menerus membayangi sekolah kampung itu. Sekolah yang dibangun atas jiwa ikhlas dan kegigihan dua orang guru, seorang kepala sekolah yang sudah tua, Bapak Harfan Efendy Noor dan ibu guru muda, Ibu Muslimah Hafsari, yang juga sangat miskin, berusaha mempertahankan semangat besar pendidikan dengan tersandung-sandung. Sekolah yang nyaris dibubarkan oleh pengawas sekolah Depdikbud Sumsel karena kekurangan murid itu, terselamatkan berkat seorang anak yang sedikit keterbelakangan mental yang sepanjang masa bersekolah tak pernah mendapatkan rapor. Sekolah yang dihidupi lewat uluran tangan para orang-orang dermawan itu begitu miskin: gedung sekolah yang bobrok, ruang kelas berlantai  tanah, beratap bolong-bolong, berbangku seadanya, jika malam dipakai untuk menyimpan hewan ternak, jika hujan airnya pada masuk, bahkan kapur tulis sekalipun terasa mahal bagi sekolah yang hanya mampu menggaji guru dan kepala sekolahnya dengan sekian kilo beras sehingga para guru itu terpaksa menafkahi keluarganya dengan cara lain. Kepala sekolah mencangkul sebidang kebun dan ibu guru menerima jahitan.
Walaupun demikian, keajaiban seakan terjadi setiap hari di sekolah yang dari jauh tampak seperti bangunan yang akan roboh. Semuanya terjadi karena sejak hari pertama kelas satu sang kepala sekolah dan sang ibu guru muda yang hanya berijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri) telah berhasil mengambil hati sebelas anak-anak kecil miskin itu
Dari waktu ke waktu mereka berdua berusaha bahu membahu membesarkan hati kesebelas muridnya agar percaya diri, berani berkompetisi, agar menghargai dan menempatkan pendidikan sebagai hal yang sangat penting dalam hidup ini. Mereka mengajari kesebelas muridnya agar tetap tegar, tekun, tak mudah menyerah, dan gagah berani menghadapi kesulitan sebesar apapun. Kedua guru itu juga merupakan guru yang ulung sehingga menghasilkan seorang murid yang sangat pintar dan mereka mampu mengasah bakat beberapa murid lainnya. Pak Harfan dan Bu Mus juga mengajarkan cinta sesama dan mereka amat menyayangi kesebelas muridnya. Kedua guru miskin itu memberi julukan kesebelas murid itu sebagai para Laskar Pelangi.
Sampai pada suatu saat ada karnaval di wilayah itu dan tiap sekolah harus menampilkan kreatiftasnya dalam karnaval tersebut. Bu Mus kebingungan dalam mencari ide. Sampai pada akhirnya bu Mus menyerahkanya kepada murid-muridnya.
Sesuatu yang mengherankan terjadi ketika sekolah Muhamadiyah yang dipimpin oleh salah satu muridnya yang mampu menjuarai karnaval mengalahkan sekolah PN (Perusahaan Negara Timah). Tidak hanya itu, sampai pada puncaknya sekolah Muhammadiyah ini yang diwakili olehe ketiga orang anak anggota laskar pelangi (Ikal, Lintang, dan Sahara) berhasil menjuarai lomba cerdas cermat tingkat sekolah mengalahkan sekolah-sekolah PN (Perusahaan Negara Timah) dan sekolah-sekolah negeri. Suatu prestasi yang puluhan tahun selalu didapat sekolah-sekolah PN (Perusahaan Negara Timah). Namun sekarang berhasil direbut oleh mereka.
Namun akhirnya kejadian yang paling menyedihkan yang melanda sekolah Muhamaddiyah itu haeus diterima, yaitu ketika Lintang, siswa paling jenius itu harus berhenti sekolah karena ditinggal ayahnya meninggal dunia dan dia harus menghidupi adiknya yang masih kecil. Padahal tinggal satu triwulan saja  untuk menyelesaikan SMP. Namun dia harus berhenti karena ia anak laki-laki tertua yang harus menghidupi keluarga sebab ketika itu ayahnya meninggal dunia. Native Belitong kembali dilanda ironi yang besar karena seorang anak jenius harus keluar sekolah karena alasan biaya dan nafkah keluarga justru disekelilingnya PN Timah menjadi semakin kaya raya dengan mengekploitasi tanah leluhurnya.














JUDUL                      : KUTBAH DI ATAS BUKIT
PENGARANG          : KUNTOWIJOYO
PENERBIT               : PUSTAKA JAYA

            Barman merupakan orang tua yang suka pada perempuan. Ia ingin menghabiskan masa pensiunnya dan barangkali sampai akhir hidupnya bersama seorang perempuan yang berbama Popi. Popi merupakan perempuan yang dicarikan oleh Bobi anak Barman untuk menemani Barman tua berlibur di gunung. Barman dianjurkan untuk mengisi hari-hari tuanya di villa di daerah pegunungan, bersama Popi. Sebenarnya Dosi istri Bobi tidak menyetujuinya, tetapi karena melihat kondisi Barman sudah tua, akhirnya Dosi menyetujuinya. Mungkin Barman akan lebih tenang di sana, tidak disibukkan oleh urusan perkotaan dan gangguan-gangguan lainnya.
            Barman dan Popi bahagia berada di villa itu. Popi merupakan wanita yang sangat dikagumi oleh Barman tua. Popi sangat rajin dan pintar memasak. Karena kesibukannya di dapur, Popi jarang bersama Barman tua. Akhirnya Barman tua berjalan-jalan sendirian dan pada saat ia berjalan, ia bertemu dengan seorang laki-laki yang usianya sama dengan Barman. Ia adalah Human. Human banyak mengajarkan Barman tentang hakikat hidup. Pada saat Barman bersama Human, Barman dapat melupakan Popi, gadis yang sangat ia cintai dan juga anak dan cucunya, tetapi pada saat Barman kembali kerumahnya, ia ingin membuang jauh-jauh ingatannya kepada Human, sahabat barunya. Pada saat Barman ingin menjumpai Human di pondok Human, ia telah menjumpai Human telah meninggal dunia. Ia tidak menyangka Human telah secepat itu meninggal. Human mewariskan pondoknya untuk Barman, dan jenazah Human dibawa oleh pegawai pengurus kematian kota praja, ia bingung siapa yang memberi tahu pegawai itu tentang kematian Human. Akhirnya Barman mulai berpikir untuk mencari kebahagiaan baru dalam hidupnya, ia memutuskan untuk tinggal di pondok Human, dengan itu ia akan terbebas dari semuanya.
            Barman dengan didampingi kuda putihnya berjalan kesana kemari untuk mencari kebahagiaan, sampai-sampai ia bertanya kepada orang yang dijumpainya yang telah tertidur lelap tentang kebahagiaan ”apakah mereka bahagia?” itulah pertanyaan yang selalu dilontarkan oleh Barman. Dari jawaban mereka, Barman melihat kejujuran dalam jawaban singkat itu. Ia bergembira. Sampai-sampai orang yang ia tanyai datang menemuinya, dan bertanya tentang apa maksud dari semua itu. Orang-orang menganggap Barmanlah bapak yang akan melepaskan mereka semua dari ketidakbahagiaan dan kesengsaraan. Dengan adanya Barman mereka senang, bergembira dan tidak mengalami ketakutan.
            Sejak awal itulah Barman tahu betapa mereka membutuhkan dirinya dan ia tidak dapat meninggalkan mereka, sampai-sampai ia merasa seperti terpenjara. Akhirnya ia mengajak semua orang mengikutinya untuk mendapatkan petunjuknya, karena semua orang memintanya untuk segera memberikan petunjuk. Ia mengajak semua orang untuk melakukan perjalanan kepuncak bukit. Banyak orang yang mengikuti perjalanan ini, laki-laki maupun perempuan. Barman bingung petunjuk apa yang harus ia berikan, akhirnya dia hanya bisa bilang :
”Bunuhlah dirimu!
”Hidup ini tak berharga untuk dilanjutkan!”
Setelah berbicara seperti ini, semua orang menangis terisak dan akhirnya Barman pergi dengan kuda putihnya dan ia jatuh kejurang. Setelah ditemukan, ia sudah tidak bernyawa, dan Barmanpun segera dikuburkan oleh orang-orang di bukit itu.

 KAJIAN MAKNA
Makna Psikologis
            Novel ini menceritakan tentang tingkahlaku seorang yang sedang mencari makna hidup, sampai-sampai ia rela mengorbankan harta, anak dan semua orang yang ia cintai, sampai akhirnya ia tidak juga mendapatkan kebahagiaan itu, dan meninggal dengan ketidakbahagiaannya.
            Dari cerita ini dapat kita mengambil kesimpulan bahwa kebahagiaan bukan dicari dengan melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri, tetapi dengan usaha kita untuk berpikir bagaimana kita akan bahagia bukan hanya untuk kebahagiaan kita sendiri, tapi juga untuk kebahagiaan orang lain, seperti pada kutipan ini :
”Bung, kesenangan itu tidak bertambah atau berkurang. Kebahagiaan yang mutlak tidak memerlukan apa-apa di luar diri kita”.
Maksud dari perkataan ini yaitu kebahagiaan yang sebenarnya tidak memerlukan apa-apa. Tidak memerlukan villa, kuda, wanita dan lain-lain, tetapi kebahagiaan yang sebenarnya datang dari hati kita, datang dari diri kita sendiri, bagaimana kita mendapatkan kebahagiaan hanya diri kita yang dapat menggapainya.

Makna Religius
            Makna religius dalam novel ini dapat kita lihat pada kepercayaan masyarakat pegunungan tentang petunjuk dan hakikat hidup yang dapat merubah mereka menjadi lebih baik, dapat memberikan kebahagiaan, bukan kesengsaraan dan ketakutan dalam menjalani kehidupan. Dari novel ini kita lihat bahwa Barman yang hanya seorang manusia biasa, dipercaya dan diyakini bahwa dia akan memberikan petunjuk untuk mendapatkan kebahagiaan. Dengan melakukan perjalanan penting seperti perjalanan para nabi, orang-orang arif, dan para filsuf. Mereka akan mendapatkan jawabannya seperti pada kutipan ini :
”Kita akan melakukan perjalanan”, kata Barman pada kelompok yang mendengarkannya. ”Perjalanan kita akan seperti perjalanan hidup seluruh manusia. Perjalanan para nabi, orang-orang arif, para filsuf”.
            Pada cerita ini banyak yang yakin bahwa jalan satu-satunya untuk mendapatkan kebahagiaan adalah dengan membunuh diri sendiri, dengan itu mereka tidak akan merasa sengsara akibat kebutuhan yang menyesatkan mereka, dengan itulah mereka akan tentram dan damai di alam mereka sana tanpa ada beban pikiran. Mereka percaya bahwa hidup ini tak berharga untuk mereka lanjutkan. Padahal Allah mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini sangat berharga, dan kita harus menjalankan hidup kita ini dengan sebaik-baiknya. Kehidupan kita, Allah yang mengaturnya, dan kita dapat mengubah kehidupan kita untuk menjadi lebih baik dengan cara berdo’a dan banyak-banyak menjalankan perintahNya dan menjauhi semua laranganNya.











JUDUL                      : KELUARGA PERMANA
PENGARANG          : RAMADHAN .K.H
PENERBIT               : PUSTAKA JAYA

            Keluarga Permana adalah keluarga yang dulunya tenteram dan damai, tetapi tiba-tiba keluarga ini berubah menjadi seperti neraka yang menyebabkan anak dan istrinya menderita tekanan lahir dan batin. Perubahan ini diakibatkan karena pemecatan pekerjaan yang dialami Permana. Semenjak Permana di pecat, dia yang dulunya dikenal sangat bijaksana berubah menjadi seorang yang kasar dan sering menyiksa anak dan istrinya. Selama Permana menjadi pengangguran istrinya yang bernama Solehlah yang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, tetapi ia juga kerap kali disiksa oleh Permana. Selama Soleh bekerja ia selalu disangka berbuat serong terhadap teman sekerjanya selama Permana menjadi pengangguran ia tidak bisa lagi berfikir positif, yang ada dipikirannya selalu perasangka buruk yang menyebabkan Permana sering memukul, menendang, menampar dan menyiksa Soleh. Tetapi Soleh tetap sabar dan bertahan menghadapi semua itu karena Soleh tidak mau keluarganya menjadi hancur.
            Selain istrinya Soleh Permana juga sering menyiksa anaknya sendiri yang bernama Ida, Permana juga sering menampar, memukul serta menyabet anak semata wayangnya itu dengan rotan hingga anak gadisnya menjadi takut dan membenci ayahnya. Perilaku kasar Permana terhadap istri dan anaknya menjadi berkurang akibat adanya Sumarno yang bermaksud ngekost dirumah Permana. Perilaku Permana menjadi berkurang. Dengan kehadiran Sumarno pendapatan mereka sedikit bertambah, dan Idapun merasa sangat senang terhadap kehadiran Sumarno, karena dia mempunyai teman. Selama ini Ida tidak mempunyai teman untuk berbagi cerita tentang perilaku ayahnya itu terhadap dia dan ibunya. Ida sangat senang mempunyai teman seperti Sumarno karena Sumarno sangat ramah, sopan dan cepat menyesuaikan diri terhadap keluarganya. Karena sering bertemu akhirnya timbul perasaan cinta diantara mereka dan merekapun menjalin hubungan, dan tanpa disadari mereka melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama. Hubungan mereka akhirnya diketahui oleh Permana, dan Permanapun mengusir Sumarno.
            Permana dan istrinya kaget setelah mendengar bahwa Ida hamil. Permana dan istrinya akhirnya sepakat menggugurkan kandungan Ida dengan ramuan obat. Setelah Ida minum ramuan tersebut, Ida harus dirawat dirumah sakit dan dengan terpaksa dokter mengangkat rahimnya sehingga Ida tidak akan mempunyai keturunan. Mendengar ini semua Permana sangat menderita dan frustasi.
            Sumanto yang mengetahui semua ini merasa sangat menyesal dan bertekad mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sumarto segera meminta maaf dan melamar Ida kepada keluarga Permana. Ida yang merasa jalan satu-satunya adalah menikah dengan Sumarto akhirnya Idapun berpindah agama ke agama suaminya, yaitu agama kristen. Dengan berat hati Permana dan istrinya merelakan anaknya untuk menikah dengan Sumarto dan berpindah agama.
            Setelah menikah Ida dibawa ke kampung halaman suaminya di Jatiwangi, disana Ida mendapat musibah lagi dan akhirnya irawat dirumah sakit. Sewaktu Ida kekamar mandi kakinya terantuk meja sehingga ia terjerembab di lantai dan iapun meninggal dunia. Ida dimakamkan dikuburan katolik atas permintaan keluarga Sumarto karena Ida sudah masuk agama katolik. Kematian Ida membuat Permana sangat menyesal dan menderita. Akhirnya karena rasa penyesalan dan dosanya itu Permana menjadi gila.  





KAJIAN MAKNA
Makna Religius
            Dari novel Keluarga Permana ini dapat kita ambil kesimpulan yang terkandung didalamnya tentang makna religius yaitu dimana seorang suami harus dapat bertanggung jawab atas keluarganya. Seorang suami harus dapat memberikan nafkah untuk anak dan istrinya.
            Anak dari kecil harus mendapatkan pendidikan agama yang banyak, agar kelak sewaktu ia dewasa ia dapat membedakan mana yang baik menurut ajaran agama islam dan mana yang tidak baik. Dari cerita Keluarga Permana ini anak semata wayangnya yang bernama Ida tidak diberikan pendidikan agama yang lebih, oleh karena itu ia melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah, sehingga ia hamil. Jalan satu-satunya agar dapat menikah ia rela berpindah agama ke agama suaminya, agama yang dianggap salah oleh ajaran islam yaitu agama kristen katolik. Padahal itu bukan jalan satu-satunya untuk dapat menyelesaikan persoalan. Kalau ia percaya dan yakin kepada Allah SWT maka ia akan diberi petunjuk yang lebih baik tentang apa yang sebaiknya ia lakukan selain berpindah agama kristen. Makna yang dapat kita ambil dalam novel tersebut adalah tentang keluarga yang kurang akan pendidikan agama, sehingga merelakan anaknya berpindah agama yang tidak diridhoi Allah dan menguburkan anaknya dengan cara katolik. Padahal sebagai orang tua yang bijaksana mereka dapat menuntun anaknya kejalan yang baik dan jalan yang benar. Sebagai orang tua maka merekalah yang menanggung semua akibatnya, karena mereka salah dalam mendidik anaknya sendiri
Makna Psikologi  
Makna psikologi dalam cerita ini dapat kita lihat pada keluarga yang seharusnya bisa bertanggung jawab dan mencari nafkah anak dan istrinya, tetapi ia malah menyiksa anak dan istrinya yang tidak bersalah, sehingga anak yang semata wayangnya itu menjadi terganggu jiwanya. Akibat penyiksaan yang dilakukan ayahnya itu anaknya menjadi pendiam disekolah dan ia menjadi sangat membenci ayahnya. Tugas seorang ayahnya seharusnya mendidik anaknya menjadi lebih baik dan berguna bukan malah menyiksa anaknya seperti yang diceritakan pada novel Keluarga permana ini.
            Dari cerita ini banyak sekali makna psikologi yang berakibat buruk. Tindakandan perlakuan yang dilakukan seorang ayah akan mempengaruhi pikiran dan kejiwaan anak. Buruk perlakuan orang tua kepada anaknya maka anaknya akan berkelakuan buruk pula. Dan pada akhirnya orang tualah yang akan menyesali perbuatannya selama ini. Ia akan menyesalinya seumur hidup. Seorang anak apabila lebih di didik dan diawasi oleh orang tuanya dengan baik maka ia akan bisa berfikir mana yang baik untuk ia jalani dan mana yang buruk untuk ia jauhi. Kalau saja dalam cerita ini Permana dapat memberikan anaknya pendidikan yang baik bukan menyiksanya mungkin anaknya akan tumbuh menjadi anak yang baik dan orangtua akan bangga terhadapnya, dan toidak akan pernah menyesali perbuatan yang ia lakukan selama mendidik anaknya.










JUDUL                      : PENGAKUAN PARIYEM
PENGARANG          : LINUS SURYADI Ag
PENERBIT               : SINAR HARAPAN
Seorang perempuan desa yang mengadu nasib di kota, Pariyem namnya. Pariyem yang datang dari desa dengan tujuan semula yaitu memperbaiki kehidupannya berhasil naik pangkat dari babu menjadi menantu dengan cara yang kurang baik, karena keberhasilan Pariyem yang selalu sesumbar melaksanakan semua tugas yang dilaksanakannya dengan ikhlas dan senang hati, menjadi kabur dan mengundang beragam reaksi, menghilangkan simpati orang-orang karena dengan jujur Pariyem dengan bangga mengakui telah berhasil memerawani den Bagus Ario yaitu anak majikannya yang masih lugu, seperti menggunting dalam lipatan.
Sebagai seorang perempuan yang sudah paham mengenai hasrat lelaki, Pariyem yang sebagai seorang pembantu sudah seharusnya menjaga amanat majikannya, menjaga nama baik dan menjaga diri sebagai perempuan serta menghindari segala kemungkinan terjadinya hubungan yang kurang terpuji itu, namun Pariyem justru menikmati dan mengajari den Bagus Ario yang masih suci bermain asmara hingga pariyem mempunyai anak yang bernama Endang Sri Setianingsih. Maka wajar jika pengakuannya menimbulkan berbagai pendapat orang-orang di sekitarnya.
Seperti membunuh dengan tersenyum, Pariyem dengan bebasnya bermain asmara dengan anak majikannya kapan pun dan dimanapun dia mau, bahkan kadang Pariyem sendiri yang ketagihan berani untuk menggoda tanpa diketahui oleh siapapun. Kemana pembantu yang lain. Rumah Suryamentaraman yang sangat luas pasti memiliki banyak pembantu, jadi bagaimana mungkin sampai pariyem tidak ketahuan berbuat demikian.  Mungkinkah mereka juga melakukan hal-hal yang sama seperti Pariyem, dan apa untungnya bagi mereka para abdi dalem yang sangat dikenal loyalitasnya. Anehnya, tidak disebutkan ada orang lain yang mengurus rumah Suryamentaraman selain Pariyem, mungkinkah Pariyem seorang perempuan yang mengurus semuanya sendirian. Kesendirian yang melelahkan sekaligus menguntungkan.
Terus kemana nDoro nKanjen Rama yang wicaksono yang selalu ngasih peringatan untuk orang lain dan juga memiliki selir yang berada di banyak tempat. Apakah karena kesibukannya yang harus mondar-mandir Betawi-Jogja membuatnya lupa memberi peringatan dan wewenang pada putra sulungnya itu. Terus kemana nDoro Ayu, ibunda den Bagus Ario yang anggun dan luhur budinya. Walaupun jaman sudah berganti, namun naluri seorang ibu tidak akan hilang untuk terus mengawasi perkembangan dan perubahan pada putranya itu. Pariyem yang sudah banyak pengalaman boleh tutup mulut dan pura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi,  tetapi sorot mata seorang pemuda yang tengah jatuh cinta bagaimana mungkin bisa lepas dari penglihatan seorang ibu yang peduli terhadap anaknya itu.
Pola pengasuhan seperti apakah yang ada di rumah  Suryomenretaman itu. Benarkah seorang yang punya kedudukan dan keturunan begitu tinggi membiarkan putranya bermain asmara dengan babu yang berpredikat janda dan jauh dari harapan keluarga. Jika sekedar bermain asmara mungkin sudah biasa, namun ini sampai melahirkan seorang anak pula. Apakah itu masih bisa disebut dengan kewajaran.
Pariyem yang digambarkan Linus memang tampak berlebihan untuk ukuran perempuan desa yang berpendidikan tidak tamat SD itu,  namun apabila menyimak cerita pada saat masa kecilnya, bapaknya seorang pemain Kethoprak dan ibunya seorang ledhek kemudian naik pangkat menjadi sindhen wayang kulit, serta seringnya Pariyem ikut ibunya nyindhen dan duduk di belakang dhalang membuat Pariyem pintar bercerita di dunia pewayangan dan Kethoprak. Namun kepandaianya itu digunakan untuk membandingkan dengan kehidupannya yang sekarang.
Kedekatan Pariyem dengan  neneknya yang merupakan orang ketiga yang mengasuhnya waktu kecil mempengaruhi sikap dan pandangan Pariyem tentang nilai kehidupan dan hubungannya dengan sesama maupun dengan sang pencipta. Di rumah Suryamenteramanpun kebiasaan Pariyem dalam mendengarkan dan mencuri-curi informasi dan berita dari berbagai sumber membuatnya bertambah pintar. Suatu kenyataan yang masuk akal yaitu bahwa belajar tidak hanya di  sekolah, belajar juga bisa dari pengalaman dalam perjalanan hidup seseorang. Sangat disayangkan seorang Pariyem yang cerdas dan pintar tumbuh dewasa dan berkembang dalam pola pengasuhan yang kurang mendapat pengarahan dan tuntunan agama yang membuatnya sulit untuk membedakan pembenaran dan keburukan.
Pariyem bekerja di rumah Suryamentaraman dengan membawa luka dalam hati setelah Paidi Kliwon yang mengajarinya menikmati hubungan menceraikannya tanpa alasan. Kemudian di rumah Suryamentaraman bertemu dengan den Bagus Ario yang sedang beranjak dewasa dan mendapatkan sinyal-sinyal seksual yang ditanggapi Pariyem dengan kebanggaan. kemudian keduanya menyatu dalam ikatan asmara tanpa ada yang mengetahui tentang status mereka. Tanpa ada kegemparan seprti layaknya keluarga yang berantakan, semuanya berakhir dengan tenang seperti air yang mengalir, tenang seperti sungai.
Benarkah demikian, apakah pariyem bahagia. Sebuah pengakuan yang hanya berani dia sampaikan kepada Paimin yang mempunyai status sosial sama dan berharap mendapat tanggapan yang menyejukkan hatinya yang mengalami kegundahan, merana, pahit, kesal karena den Bagus Ario sudah memiliki kekasih yang sederajat dengannya. Pariyem harus berkaca pada dirinya sendiri dan nrima ing pandum bahwa dirinya hanya selir yang pantas sebagai biyung emban atau limbuk dan tidak berhak menuntut perlakuan istimewa karena Pariyem harus menjaga nama baik dan tidak ingin mempermalukan keluarga besar majikannya.




JUDUL                      : BURUNG-BURUNG MANYAR
PENGARANG          : DARMAN MOENIR
PENERBIT               : PUSTAKA JAYA

Sutadewa alias Leo alias Teto adalah seorang anak kolong, pemuda yang berpendidikan tinggi ini adalah seorang dokter lulusan Universitas Havard yang menjadi ahli komputer di sebuah perusahaan besar di Amerika. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga tentara KNIL. Ayahnya adalah seorang kepala garnisun II pada masa KNIL, yang berpangkat letnan. ibunya dikenal bernama Marice yang pasarnya terkenal sanagt cantik.
Teto berasal dari keluarga yang cukup terpandang, ayahnya masih keturunan bangsawan keraton, sedangkan ibunya keturunan indo-Belanda. Segala kemauan Teto selalu dipenuhi. Ayahnya adalah seorang Letnan Barjabasuki yang menjabat sebagai kepala Garnisun Divisi I di Magelang. Oleh karena itu Teto bebas bergaul dengan anak-anak Belanda maupun Indo-Belanda. Masa kecil Teto penuh  dengan kebahagiaan. Teto sangat bangga pada ayahnya, selain itu dia juga bercita-cita menjadi seorang tentara KNIL Belanda seperti ayahnya. Ia yakin bahwa dengan bergabung dan mengabdi pada KNIL, kehidupannya akan menjadi lebih baik.
Ketika Jepang berhasil mengusir tentara KNIL Teto merasa sangat terpukul. Waktu itu kehidupan keluarganya menjadi kacau. Ayahnya ditangkap dan disiksa oleh tentara Jepang dan hampir dibunuh kalau saja ibunya tidak menyelamatkannya. Komandan tentara Jepang memberi pilihan kepada ibunya untuk menjadi wanita penghibur komandan Jepang atau nyawa suaminya melayang. Terpaksalah Ibu Teto memilih menjadi wanita penghibur inyuk menyelamatkan suaminya dari siksaan tentara Jepang. Berkat pengorbanannya inilah ayah Teto akhirnya dibebaskan oleh tentara Jepang. Betapa hancur hati Teto menyaksikan penderitaan yang dialami keluarganya. Ia sangat dendam terhadap tentara Jepang yang telah menghancurkan keluarganya.
Kemudian tentara Jepang pergi dari Indonesia dan Belanda kembali ke Indonesia dengan berlindung di balik tentara Sekutu. Dengan begitu Teto menyambutnya dengan hati yang senang karena cita-citanya menjadi tentara KNIL akan menjadi kenyataan. Karena kedisiplinan seorang Teto, dia sangat disenangi komandan KNIL. Dalam waktu dua bulan Teto sudah diangkat menjadi komandan patroli.
Karena posisi tentara KNIL lama-lama makin lemah akibat perlawanan rakyat Indonesia, akhirnya Belanda meninggalkan Indonesia. Teto malu pada dirinnya sendiri mengapa tidak bergabung dengan tentara Republik. Ia malu terhadap kekasihnya, Larasati atau Atik, teman sepermainannya sejak kecil, yang berjuang demi bangsanya. Dia merupakan  teman Teto sejak kecil. Sementara teman-teman Teto sepermainan ketika kecil menjadi tercerai-berai setelah tentara Jepang datang ke Indonesia. Sekarang Teto bersama teman-temannya yang sekolah di SMT (Sekolah Menengah Tinggi) yang sering diindoktrinasikan oleh Jepang.
Di Jakarta ayah Teto ditangkap oleh tentara Jepang. Selain itu  bahwa ibunya pun terpaksa menjadi wanita penghibur tentara Jepang, bila nyawa suaminya ingin selamat. Perasaan sedih dan kesal Teto tak terhingga. ayahnya ditangkap, disiksa dan ibunya yang disayangi terpaksa melayani nafsu para tentara Jepang. Sejak itu Teto mulai benci terhadap segala hal yang berhubungan dengan  Jepang. Sejak itu pula ayah dan ibu Atik menjadi orang tua angkatnya, karena hanya mereka yang mengerti keadaan Teto.
Teto ingin mengikuti jejak ayahnya yang menjadi tentara KNIL karena ditekan oleh rasa dendam terhadap tentara Jepang. Namun tidak lama Teto tertangkap oleh anak buah Mayor Verbruggen, ketika ia berjalan di Pasar. Setelah dihadapkan kepada komandan, ia menyerahkan dokumen dari ibunya yang menjadi wanita penghibur rtentara Jepang. Dokumen itu dikirimkan melalui Ibu Antana. Dari Ibu Antana pula Teto mendapat kabar yang tidak pasti bahwa ibunya telah meninggal. Pada saat itulah  Mayor Verbruggen mengangkat Teto menjadi letnan karena Teto mengetahui banyak daerah di Jakarta.
Dalam tugas kemiliteran itu Teto berkunjung ke tempat Atik di Kramat. Tetapi dirumah Atik, Teto tidak menjumpai seorang pun. Keluarga itu telah mengungsi ke daerah lain. Dari lubang kunci pintu Teto mendapatkan surat Atik. Dari catatan itu Teto mengetahui bahwa Atik telah bergabung dengan pihak republik, yaitu menjadi sekretaris pemerintah RI. Kini perasaan cinta kasih dan jengkel berpadu dalam dirinya, karena Republik juga merupakan musuh NICA.
Pada saat itu pula ketika Teto datang ke Kramat ke rumah Ibu Antana, Atik terkejut dan pingsan setelah melihat seorang tentara NICA datang mengendap ke rumahnya. Setelah Atik siuman perasaan Teto tak menentu oleh cinta dan kesal. Seketika itu Teto lansung kluar dan pulang.
Tahun 1946 terjadi hal yang membingungkan Teto. Kekuasaan Republik dengan kesigapan dan kedisiplinan tentaranya mulai terlihat nyata. Belanda mengingkari perundingan. Serangan mereka mulai membabi buta. Atik menyaksikan sendiri ayahnya gugur dalam serangan itu. Yogyakarta diduduki Belanda. Banyak kejadian yang meresahkan masyarakat. Banyak orang gadungan yang mencari kesempatan berbuat tidak senonoh. Dalam pergolakan itu Jenderal Spoor mati. Aksi militer Belanda lumpuh dan hiduplah Republik.
Teto terus berusaha menyusul Verbruggen. Rupanya Verbruggen memang mencari seseorang setelah mendapat berita dari intelijen Belanda. Marice ditemukan di Rumah Sakit Syaraf. Marice telah berubah ingatan karena penderitaan batin yang tak ada hentinya. Betapa hancur perasaan Teto dan Verbruggen. Perasaan Teto hancur karena penderitaan ibunya tercinta, sedang perasaan Verbruggen hancur karena Marice tak lain adalah kekasih yang sangat dicintainya, yang menyebabkan ia sampai sekarang tidak menikah.
Penyerahan kedaulatan kepada RI sebagai hasil KMB di Den Haag telah berlangsung. Atik dan ibunya berziarah ke makam ayahnya. Pikiran Atik kacau antara kemenangan Republik dan kekasihnya yang dikenal sebagai pengkhianat bangsa. Berpuluh tahun kemudian setelah kemerdekaan RI Teto berziarah ke makam ibunya di Magelang. Kesempatan itu digunakannya untuk melihat tempat-tempat kenangan ketika ia masih kecil.
Dipaksakannya pula untuk menyaksikan bekas kekasihnya Atik dalam mempertahankan disertasi untuk mendapat gelar doktor dan telah menjabat Kepala Direktorat Pelestarian Alam. Ia akan mempertahankan disertasi untuk mendapatkan gelar doktor Biologi. Tesis yang akan dipertahankannya berjudul "Jatidiri dan Bahasa Citra dalam Struktur Komunikasi Varietas Burung Ploceus Manyar". (Ploceus Manyar = Burung-burung Manyar). Semua pertanyaan yang diajukan profesor penguji dapat dijawab Dra. Larasati Yanakatamsi dengan tepat dan jitu. Selain itu Atik telah bersuami seorang dosen. Jawabannya menyangkut kehidupan, kemanusiaan, kemasyarakatan, kecintaan, kasih sayang, komunikasi, dan hubungan generasi. Teto merasa bahwa jawaban Atik dalam sidang senat itu tepat mengenai dirinya selama ini, sekalipun Atik tidak mengetahui bahwa Teto hadir dalam sidang itu. Ia sadar akan kekeliruannya selama ini.
Namun kehadiran semua tamu dapat diketahui. Alamat Teto pun diketahui. Yanakatamsi bersama istri datang ke rumah KRT Prajakusuma. Mereka ingin berjumpa. dengan Teto. Pertemuan itu sangat mengharukan, karenaTeto dirasakan sebagai kakak dan sekaligus kekasih oleh Nyonya Yanakatamsi. Namun Yanakatamsi penuh pengertian. Pertemuan itu benar-benar menggembirakan dan mengharukan. Suami Atik sudah lama mengenal  Teto dari Atik sendiri. Bahkan perkenalan Yanakatamsi dengan Larasati berawal dari pertemuan mereka karena Atik sering diajak ibunya berziarah dan membersihkan makam Marice, ibu Teto.
Hubungan Teto dengan keluarga Atik terlihat baik. Sesekali masih terbayang pada Ibu Antana mengapa bukan Teto menantunya. Demikian pula Atik tetap mendambakan keperkasaan Teto di samping suami dan ketiga orang anaknya. Kemesraan batinnya dengan Teto tetap mengendap dalam lubuk hatinya. Namun Teto yang telah memiliki kesadaran tetap.berupaya agar batas keduanya tetap terjaga.
Dalam perjalanan menunaikan ibadah haji, hal buruk menimpa Atik dan suaminya. Mereka mengalami kecelakaan karena pesawat yang mereka tumpangi menabrak gunung di Kolombo. Mereka hanya pulang nama. Saat itulah ketiga anak mereka menjadi yatim piatu. Karena ayah dan ibunya telah tiada dan anak-anaknya dekat dengan Teto, akhirnya Teto mengangkat kereka menjadi anak angkat.














JUDUL          : KEMARAU
KARYA         : A.A. NAVIS
PENERBIT   : PUSTAKA JAYA

            Sutan Duano merupakan orang yang berarti dan disegani banyak orang karena kebaikan hatinya. Ia dipercaya banyak orang serta ia juga suka menolong setiap orang yang kesulitan. Ia tinggal di surau, di daerah perkampungan. Ia merupakan pemimpin di kalangan petani untuk mengerjakan sawah.
            Pada saat itu kemarau panjang melanda perkampungan itu sehingga para petani merasa putus asa. Sawah dan ladang mereka sangat kering dan cuaca panas sangat menyengat tubuh. Keadaan itu membuat mereka tidak lagi menggarap sawah mereka. Mereka hanya bermalas-malasan. Tidak seperti Sutan Duono, dia mengambil air dua kali sehari untuk mengaliri sawahnya agar padinya tetap tumbuh. Ia tidak menghiraukan panas matahari yang membakar tubuhnya. Ia berharap agar para petani desa mengikuti perbuatan yang ia lakukan. Ia juga memberikan pengarahan kepada semua orang agar mau mengikuti apa yang ia lakukan, tetapi tak satupun yang mau mendengarkannya.
            Sutan Duano ingin mengubah pola pikir dan cara hidup penduduk desa itu. Berbagai usaha telah ia lakukan agar penduduk desa itu mengikuti apa yang dilakukannya. Namun, apa yang dilakukannya hanya sia-sia saja.
            Pada saat Sutan Duano melakukan pekerjaannya mengairi sawah, ia dibantu oleh anak kecil yang bernama Acin. Acin merupakan anak seorang janda yang bernama Gundam. Melihat kejadian itu, penduduk desa mempergunjingkan dan memfitnah Sutan Duano. Penduduk mengira bahwa Sutan Duano mencoba mencari perhatian Gundam, ibu si bocah itu. Gunjingan itu semakin memanaskan telinga Sutan Duano, sampai di pengajian yang dipimpin olehnyapun ibu-ibu pengajian banyak mempersoalkan tentang gunjingan ini, tetapi Sutan Duano tidak menanggapinya. Ia tetap bersikap tenang, hingga akhirnya ia menerima telegram dari anaknya yang sudah lama ia sia-siakan yang bernama Masri. Masri meminta Sutan Duano untuk pergi ke Surabaya.
            Sutan Duano sangat ingin bertemu dengan anaknya itu, karena sudah 20 tahun ia meninggalkan anak semata wayangnya, tetapi ia juga tidak mau meninggalkan desa itu, karena ia tidak mau meninggalkan Upik, si bocah yang masih banyak membutuhkan kasih sayang dan bimbingannya. Namun, bisikan hati dan dengan pertimbangan yang matang serta akibat adanya gunjingan dan fitnah yang tersebar di desa itu, akhirnya ia pun memutuskan untuk meninggalkan desa itu.
            Penduduk desa sangat kehilangan atas kepergian Sutan Duano, apalagi sewaktu penduduk membuktikan bahwa apa yang disarankannya memberikan hasil. Semua penduduk merasa menyesal akibat salah sangka terhadap Sutan Duano.
            Sesampainya Sutan Duano di Surabaya, ia sangat terkejut melihat kenyataan yang terjadi. Hatinya hancur ketika ia bertemu dengan mertua anaknya yang tidak lain adalah Iyah. Iyah merupakan mantan istri Sutan Duano. Ia sangat marah terhadap mantan istrinya itu, karena Iyah telah menikahkan dua orang yang bersaudara. Dia tidak menyangka Iyah tega melakukan ini semua. Sutan Duano ingin memberitahukan ini kepada Masri dan Arni, namun ditentang oleh Iyah. Iyah tidak mau Arni menjadi seorang janda seperti dirinya. Iyahpun berusaha menghalanginya dan memukul kepala Sutan Duano dengan sepotong kayu. Untung saja Arni segera muncul dan segera menghalangi ibunya dan menolong Sutan Duano yang bersimbah darah. Iyah merasa menyesal telah memukul mantan suaminya itu. Akhirnya Iyah memberitahukan masalah ini kepada Aini bahwa Sutan Duano adalah mantan suaminya. Betapa terkejut Arni mendengarnya. Kemudian Arni memberitahukan masalah ini kepada suaminya, sehingga mereka sepakat untuk berpisah.
            Bertahun-tahun kemudian akhirnya Iyah menemui ajalnya di rumah sakit, tak lama setelah ia membukakan rahasia perkawinan Masri dan Arni. Ia meninggal dengan tenang. Kemudian Arni menikah dengan anak Haji Tumbijo, dan Masripun menikah dengan teman kerjanya. Sedangkan Sutan Duano kembali kedesa di tepi danau dan menikah dengan Gundam.

 KAJIAN MAKNA
Makna Psikologi
            Dalam novel kemarau ini menceritakan tingkahlaku penduduk yang hanya mengharapkan rezeki dari Allah SWT, tanpa mau berusaha terlebih dahulu. Mereka menganggap saran untuk menyirami sawah dengan air danau adalah perbuatan yang gila. Mereka yang mempunyai sawah yang luas hanya mementingkan dirinya sendiri. Para penduduk desa masih mengikuti nenek moyang mereka dulu yang hanya turun kesawah di musim hujan saja, bukan di musim kemarau, seperti pada kutipan ini :
”Ya. Aku tahu itu. Tapi menurut pengetahuanku yang hampir 60 tahun di dunia ini, tak pernah orang-orang dulu mengerjakan sawahnya 2 kali dalam setahun. Kenapa kita menyalahi apa yang telah dilakukan nenek moyang kita dulu. Nenek moyang kita dulu bukan orang bodoh. Mereka turun kesawah di musim hujan bukan di musim kemarau”.
            Dari kutipan ini dapat kita lihat bahwa cara pandang dan pola pikir mereka masih sangat rendah. Mereka masih mengikuti cara pandang nenek moyang mereka dulu yang hanya memanfaatkan hujan saja untuk mengaliri sawah mereka. Untuk itu novel ini sangat membentu mengubah pola pikir masyarakat yang dulu ke masyarakat yang dapat berpikir untuk kedepannya.

Makna Sosial
            Makna sosial yang terdapat dalam novel ini terletak pada kutipan-kutipan yang menyangkut masalah gotong royong dan tolong menolong diantara sesama warga, seperti pada kutipan berikut :
”Ia sudah punya sepanjang bendi, punya seekor sapi untuk membajak. Karenanya ia telah menjadi orang yang berarti, disegani oleh semua orang. Tapi bukan karena kayanya, melainkan karena kebaikan hatinya, dipercaya dan suka menolong setiap orang yang kesulitan. Lambat-lambat ia akan menjadi pemimpin di kalangan petani untuk mengerjakan sawah. Sapi dan bajaknya dipinjam dengan cuma-cuma. Sistem izin diusahakannya melenyapkannya dengan meminjamkan uangnya sendiri tanpa bunga. Pada suatu saat yang massak, didirikannya koperasi di kalangan mereka”.
            Dari kutipan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa penduduk di dalam novel ini sangat mementingkan makna sosial, saling bantu membantu dan tolong menolong dalam mengembangkan masyarakatnya untuk menjadi lebih baik.

Makna Religius
            Makna religius pada novel ini banyak mengungkit masalah-masalah ketabahan atas apa yang sudah diputuskan oleh Allah SWT dan penduduk atau kita harus dapat mengubah takdir itu dengan berusaha menggunakan seluruh kemampuan kita untuk mengubah takdir itu, bukan dengan menerimanya dengan pasrah tanpa mau berusaha seperti pada kutipan ini :
”Kalau Tuhan punya mau, memang tak seorangpun yang kuasa menghalanginya. Itu adalah takdirNya. Tapi ada dua macam takdir. Takdir yang disambut dengan berpangku tangan dan takdir yang diiringi dengan ikhtiar”.
            Dalam kutipan ini dijelaskan dalam menjalankan kehidupan ini kita tidak boleh hanya berpangku tangan menerima semua apa yang sudah ditakdirkan, tetapi kita juga harus berikhtiar dan berusaha sesuai dengan kemampuan kita.





JUDUL                      : CANTING
PENGARANG          : ARSWENDA  ATMOWILOTO
PENERBIT               : GRAMEDIA

            Seorang pengusaha batik tradisional merek Canting di Solo yang bernama Raden Ngabehpi Setrokusumo yang merupakan keturunan Keraton kaya serta dihormati dan disegani memutuskan menikah dengan wanita yang bukan berasal dari keturunan keluarga Keraton, yang bernama Tuginem. Karena status ekonomi dan status sosial yang beda, hubungan Raden Ngabei dan Tugiyem tidak direstui oleh keluarga besar Raden Ngabei. Namun, Raden Ngabei tetap menikahi Tugiyem. Setelah menikah, ia dipanggil dengan nama ibu Bei. Ibu Bei membantu usaha batik yang didirikan oleh suaminya. Berkat kerja kerasnya, usaha batik merk canting milik mereka berkembang pesat.
            Usaha canting ternyata mengalami kemajuan yang pesat. Khas karya batik tulisnya banyak digemari dan dikagumi oleh masyarakat kota Solo. Oleh Raden Ngabei dan Tugiyem, batik canting yang diproduksi dari perusahaan mereka dipasarkan di pasar Klewer. Tugiyem mengelola atau menekuni langsung usaha mereka. Walaupun Tugiyem telah menjadi seorang wanita karier, ia tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Dia tetap melayani suami dan semua anaknya dengan baik. Itulah sebabnya keenam anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang membanggakan. Wahyu Dewabrata menjadi dokter, Lintang Dewantri menjadi istri kolonel, Bayu Dewasunu menjadi dokter gigi, Ismaya Dewakusuma menjadi insinyur, Wening Dewamurti menjadi dokter yang kemudian menjadi kontraktor yang sukses, serta si bungsu Subandini Dewaputri menjadi sarjana farmasi.
            Karena teknologi makin lama makin modern dan banyak persaingan dari pengusaha lain, kesuksesan batik canting lama-kelamaan merosot. Batik canting mereka mulai mendapat saingan berat dari pabrik besar dan modern.
            Melihat usaha yang dirintis oleh ibunya mulai menurun, Subandini Dewaputri mencoba mengambil alih usaha batik itu. Dengan penuh semangat ia berusaha melakukan persaingan dengan batik-batik keluaran pabrik-pabrik besar dan modern. Namun ia kalah bersaing. Penjualan batik mereka semakin merosot. Dia mulai frustasi dan akibatnya jatuh sakit. Katika sakit itulah timbul kesadaran dalam dirinya. Dia mulai memahami mengapa usaha batiknya tak dapat bersaing dengan produk-produk keluaran pabrik. Salah satu penyebabnya adalah masalah merk. Akhirnya dia memutuskan untuk mengubah merk canting menjadi Canting Daryono.
            Keputusan mengubah merk canting menjadi Canting Daryono membuat usaha mereka lama-kelamaan mulai berkembang pesat. Usahanya mulai bisa bersaing dengan pabrik-pabrik besar di pasaran. Akibat kegigihannya mengembangkan usaha batik canting ini, akhirnya usahanya dapat dirintis kembali, dan batik merekapun mulai dikenal lagi. Semua kakak-kakaknya saling bantu membantu dalam usaha ini. Tidak hanya di dalam negeri, tapi usaha ini juga mulai dikenal di luar negeri.
            Selama Subandini menangani perusahaan keluarganya, Hermawan pria pilihan hati Subandini setia menungguinya. Setelah perusahaan telah selesai ditandatangani, akhirnya Subandini menikah dengan Hermawan. Pernikahan tersebut dilaksanakan bertepatan dengan hari selamatan setahun meninggalnya Tugiyem (Bu Bei).
           






KAJIAN MAKNA
Makna kebudayaan
Dalam novel canting ini banyak sekali terdapat adat kebudayaan keraton. Novel ini banyak menceritakan adat kebiasaan, sikap, prilaku serta kehidupan dikeraton. Seperti mengadakan pertemuan setiap hari jumat keliwon, kebudayaan jawa tersebut dapat terlihat dari kutipan ini.
”ide pertemuan setiap hari jumat keliwon, dimulai dari dalem Tumenggungan . kanjeng Raden Tumenggung Sosrodiningrat mengumpulkan kerabatnya setiap tiga puluh lima hari sekali, tepat hari jumat keliwon, untuk membicarakan kebudayaan jawa. Tadinya pertemuan itu bernama Ngrumpaka kebudayaan jawi, tetapi lalu disederhanakan atau dimasyarakatkan dengan bahasa yang tidak terlalu tinggi, yaitu nguri-uri kebudayaan jawa. Artinya yang terkandung sama, yaitu mengembangkan kebudayaan jawa.....”(canting :17)
Dari kutipan ini dapat terlihat bahwa kebudayaan jawa masih sangat kental dan dibutuhkan oleh masyarakat jawa. Kebudayaan jawa pada cerita ini masih selalu dikembangkan dan dibicarakan oleh orang-orang khususnya orang-orang keraton. Mereka masih mwnganggap kebudayaan jawa masih harus dikembangkan dan dibudayakan.
Pada novel canting ini kebanyakan wanitalah yang bekerja untuk kebutuhan hidup sehari-hari di pasar klewer.  Seorang suami hanya suka menerima hasilnya saja, suami hanya duduk saja dirumah dan menerima uang dari hasil bekerja istrinya dipasar. Di pasar klewer yang paling banyak memenuhi pasar itu adalah wanit, para wanita selalu giat dalam memperdagangkan barang-barang itu. Dari sini dapat kita lihat bahwa wanita juga sama seperti pria, dapat bekerja sama seperti pria yang mencari nafkah untuk kehidupan keluarganya.

Makna Religius
            Dari novel ini makna yang dapat kita ambil adalah tentang kesungguhan dan keuletan seorang perempuan untuk berbakti dan melayani suaminya dengan sungguh-sungguh dan setia. Padahal dalam cerita itu seorang suami yang istrinya sungguh-sungguh setia mempunyai wanita lain. Dari sini dapat kita lihat bahwa ketabahan seorang wanita itu sungguh besar, dan itulah yang diajarkan agama islam pada kita agar kita selalu tabah dalam menjalankan hidup.
            Dalam novel ini juga masih terdapat adat istiadat yang masih sangat sering dilaksanakan yaitu dalam melaksanakan pertemuan keraton selalu ada minum-minuman keras dan perempuan, padahal semua itu adalah larangan allah SWT, wanita yang boleh digauli hanya seorang istri yang sah, tetapi pada cerita ini mereka (para keraton) sering berhubungan dengan wanita yang bukan istrinya.











JUDUL                      : HARIMAU-HARIMAU
PENGARANG          : MOCHTAR LUBIS
PENERBIT               : PUSTAKA JAYA

            Tujuh orang pencari nafkah dengan mengumpulkan damar, sudah seminggu lamanya berada di dalam hutan belantara. Anggota rombongan pencari damar tersebut adalah Pak Haji Rakhmad, yang telah berumur 60 tahun. Dialah yang tua diantara mereka, Wak Katak berumur 50 tahun, Sutan 22 tahun, Talib 27 tahun, Sanip 25 tahun, Buyung 19 tahun, dan terakhir adalah Pak Balam yang sebaya dengan Wak Watok. Mereka bertujuh selalu bersama-sama pergi mengumpulakan damar. Mereka termasuk orang baik di mata orang sekampung. Pemimpin dalam rombongan itu adalah Wak Watok, karena dia memiliki ilmu tinggi, ahli pencak silat dan mahir sebagai dukun. Diantara ketujuh rombongan tersebut, yaitu Buyung, Sanip, Sutan, Talib dan Pak Balam adalah murid-murid silat Wak Watok.
            Selama berada di hutan, mereka beruntung karena tak beberapa jauh dari hutan damar ada sebuah huma kepunyaan Wak Hitam. Di sebuah pondok di belakang Wak Hitamlah mereka selalu bermalam. Selama berada di hutan damar, Wak Hitam adalah seorang tua yang umurnya hampir 70 tahun, bininya ada 4.
            Minggu pertama selama rombongan itu berada di dalam hutan, mereka tidak menemui masalah yang berarti. Pada minggu kedua, rombongan tersebut mulai diganggu oleh seekor hatimau tua dan ganas. Dalam suatu kesempatan, ketika salah seorang pencari damar lengah, harimau itu berhasil menyergapnya. Korban pertama adalah Pak Balam, namun dia dapat ditolong oleh teman-temannya. Pak Balam memberi saran kepada teman-temannya untuk mengukur dosanya agar tidak menjadi korban berikutnya. Dia percaya bahwa harimau tersebut adalah harimau jadi-jadian.
            Pada hari berikutnya, korban berikutnya adalah Talib. Dia diterkam harimau ketika terpencar dari rombongannya. Ia segera mendapat pertolongan dari teman-temannya. Ia mengalami luka parah, dan akhirnya meninggal dunia setelah mengakui perbuatannya, bahwa ia pernah mencuri.
            Setelah menguburkan Talib, rombongan yang terdiri dari Buyung, Wak Katok, dan Sarip segera berangkat untuk memburu harimau. Sedangkan Pak Haji Rakhmat dan Sutan bertugas menjaga Pak Balam yang masih terluka parah. Namun, karena merasa bosan, Pak Haji Rakhmat dan Sutan menyusul teman-temannya. Dalam perjalanan, pada saat mereka lengah, Sutan disergap harimau tua dan langsung diseret kedalam hutan dan hilang entah kemana. Tidak lama kemudian, giliran Pak Balam yang meninggal dunia karena lukanya sangat parah.
            Ketika Wak Katok diajak oleh Buyung dan Pak Rakhmat untuk mengejar harimau, ia tidak mau ikut. Dia memutuskan untuk pulang, akan tetapi karena dipaksa oleh Pak Haji Rakhmat, akhirnya ia ikut juga. Dengan peristiwa ini terbongkarlah rahasia jika Wak Katok sebenarnya pengecut. Dalam perjalanan memburu harimau, Wak Katok memaksa agar teman-temannya mengakui segala dosa-dosa mereka. Saran itu ditolak oleh Buyung. Karena tersinggung, akhirnya Wak Katok dan Buyung bersitegang. Dalam ketegangan itu tiba-tiba harimau datang menyerang. Pada saat itu Buyung membuat api dan mengusir harimau itu dengan api di tangannya. Usahanya berhasil, dan harimau tersebut lari kedalam hutan, dan Wak Katuk akhirnya selamat.
            Karena rahasia Wak Katok terbongkar dan merasa malu, akhirnya ia marah kepada teman-temannya dan mengancam akan menembak mereka, bila tidak meninggalkannya. Buyung dan Pak Haji langsung pergi. Namun, mereka kembali lagi beberapa saat kemudian, karena melihat Wak Katok masih memegang senjata, sehingga dengan diam-diam dia bisa menembak mereka dari belakang. Pak Haji Rakhmat berusaha merebut senjata Wak Katok. Mereka berdua berkelahi. Senjata Wak Katok meletus, da pelurunya menembus dada Pak Haji Rakhmat. Pak Haji Rakhmat meninggal dunia pada saat itu juga.
            Wak Katok yang sudah tidak berdaya dijadikan umpan harimau oleh Buyung dan Sanip. Rencana keduanya berhasil, harimau langsung menyerang Wak Katok. Sebelum menyentuh tubuh Wak Katok, Buyung yang sudah siap siaga menumpahkan pelurunya dari semak-semak, bidikannya tepat mengenai kepala harimau tersebut, sehingga harimau itu langsung terjerembab dan Wak Katokpun selamat. Buyung dan Sanip membawa Wak Katok kekampung mereka dan langsung menyerahkan kepada kantor kepolisian. Lelaki itu harus mempertanggungjawabkan perbuatan jahatnya selama ini. Diapun dipenjarakan.

 KAJIAN MAKNA
Makna Religi
            Nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen Harimau-Harimau karya Mochtar Lubis ini yaitu mengenai nilai religi. Dalam cerpen ini nilai religinya berupa masalah takhayul dan kebatinan yang berkembang di masyarakat Indonesia. Tetapi di atas semua itu masih tetap ada Tuhan dengan segala kekuasaannya. Tidak ada yang lebih baik dari pada Allah SWT. Segala yang terjadi di muka bumi ini hanyalah karena Allah, bukan karena manusia atau apapun, seperti pada kutipan ini :
” Dan tentang ilmu sihirnya....orang hanya berani berbisik-bisik saja tentang ini. Kata orang, dia dapat bertemu hantu dan jin”.
Dari kutipan ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa tidak ada manusia yang dapat melebihi kekuatan dan kekuasaan Allah SWT, sekuat dan sehebat apapun manusia, dia hanyalah manusia biasa.
            Dalam novel ini banyak sekali makna yang terkandung selain makna religi. Ada juga makna sosial, yaitu dengan adanya mereka saling bantu-membantu dalam mencari kebutuhan hidup seperti pada saat Wak Hitam memberikan tempat berteduh untuk para pencari damar di hutan, dan saling tolong menolong terhadap bahaya yang mengancam orang-orang pencari damar tersebut
Makna psikologi
            Pada novel ini juga terdapat makna psikologinya, seperti pada tingkahlaku Wak Hitam dan Wak Katuk. Wak Hitam merupakan orang yang sangat aneh, lebih suka menyendiri di hutan dari pada hidup di dalam masyarakat yang ramai. Wak Hitam juga suka berganti-ganti pasangan. Tiap mau berhubungan badan, ia sering menyiksa perempuan terlebih dahulu, padahal itu sangat tidak baik. Perlakuan itu akan membuat mental perempuan yang disiksa menjadi terganggu. Sedangkan Wak Katuk adalah orang yang sangat senang berbuat curang dan membohongi banyak orang. Ia sering memanfaatkan kepandaian dan kecerdasan orang, supaya dia dihormati oleh orang banyak. Ia banyak memakai hal-hal yang dianggap gaib agar ia tidak dianggap seorang yang penakut dan tidak dapat berbuat apa-apa, tanpa alat yang selalu dibawanya. Ia selalu merasa dirinya hebat, kuat, dan sakti. Bisa melakukan apa saja. Padahal semuanya hanya bohong belaka.
















SINOPSIS 10 NOVEL MUTAHKIR
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Pengkajian Fiksi
Dosen Pengampu : Dr.Ali Imron Al-Ma’ruf, M.Hum.



















Disusun oleh :
Yakub Priyono
A 310080069
                                                                                               

PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2 0 1 0

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar